Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJun 13, '06 10:11 PM
for everyone

"Sangkan Paraning Dumadi’ yang secara harfiah dapat diartikan sebagai suatu ungkapan filosofi "asal dan tujuan manusia" sudah lama menjadi suatu kalimat yang menggelitik saya dan sering membuat saya mendadak berhenti dalam saat-saat tertentu kehidupan saya, bukan lagi untuk memperkenalnya namun mengenalnya lebih jauh dengan keinginan untuk mengetahui sekaligus menerapkan apa sebenarnya makna terdalamnya dan darimana Wong Jowo mengenal ungkapan nan indah itu. Kesempatan untuk lebih jauh menelusuri "Sangkan Paraning Dumadi" pun kemudian mencuat kembali di akhir abad ke-20 ketika huru-hara melanda Negeri Indonesia yang katanya terkenal ramah tamah ini. Simbol-simbol keramahtamahan itu tiba-tiba berantakan begitu saja di bawah asap dan api yang menggelora, membumi hanguskan Jakarta dan Indonesia. Zaman huru-hara dimulai (lagi), peribahasa Sangkan Paraning Dumadi tiba-tiba teraktualisasikan kembali melalui firman Kun fa Yakuun karena di saat yang sama saya pun sedang menelusuri makna firman Tuhan yang tercantum dalam QS 36:82 itu, yang menyembunyikan rahasia terselubung dari kemanusiaan dan kemukminan saya sebagai penganut Agama Islam.

Apa sebenarnya arti Sangkan Paraning Dumadi yang secara harfiah umumnya kita pahami sebagai "Asal dan Tujuan Manusia"? Cukup sulit juga saya mencari literatur tentang filsafat Jawa yang bagus yang menjelaskan makna kalimat sakral tersebut. Umumnya, berbagai pengetahuan tentang filsafat Jawa hanya sepintas-sepintas saja saya ketahui dari buku Koentjaraninggrat, antropolog terkenal Indonesia yang menulis buku tentang mentalitas bangsa Indonesia yang dulu pernah menjadi pegangan pelajaran etika di Perguruan Tinggi. Setelah beberapa waktu, akhirnya saya menemukan buku kecil yang cukup ringkas yang menjelaskan filsafat Jawa lengkap dengan huruf-hurufnya yang bagi saya mulai terlihat ajaib.

Terus terang kesan ajaib itu muncul setelah risalah Kun fa Yakuun selesai di tulis dan sedang dalam renovasi untuk diubah menjadi 4 buku dan 1 buku puisi. Entah kenapa Buku Pertama dari Kun Fa Yakuun saya beri sub-judul "Sangkan Paraning Dumadi" sebagai titik tolak penguraian "Kun fa Yakuun". Keduanya nampaknya saling bersanding kalau tidak malah suatu keniscayaan bahwa ungkapan filosofis "Sang Paraning Dumadi" dan firman "Kun fa Yakuun" bersumber pada satu sumber mata air yang sama, yang dulu di zaman Yunani juga pernah diungkapkan sebagai "Que Sera-sera" yang jadi kata pembuka lembaran tesis sarjana saya dulu.

Ungkapan-ungkapan metaforis filosofis masa kini yang kita kenal, memang sejatinya banyak yang berasal dari ujar-ujar kaum filsuf Yunani. Sebagai contoh, ungkapan "Telur dan ayam mana duluan?" yang sering membuat orang senewen berasal dari zaman Aristoteles yang menjalar sepanjang zaman yang sejatinya berkaitan dengan titik tolak penciptan makhluk. Demikian juga, "segalanya mengalir" atau "Pantha Rei", "dari titik menjadi garis", dan lain sebagainya banyak berasal dari kajian-kajian filosofis masa lalu yang mungkin hanya dikenal oleh anak-anak yang belajar filsafat saja. Yunani dulu terkenal sebagai Kerajaan Pikiran yang pernah ada di Planet Bumi dengan tokoh-tokohnya yang terkenal seperti Thales, Phytagoras, Socrates, Plato, Aristoteles, Plotinus, dan di masa akhir kejayaannya terdapat seorang wanita legendaris dari Aleksandria Mesir yang menjadi Guru Neoplatonis dan ahli matematika di Perpustakaan Aleksandria, yang mati dengan tragis karena kedengkian suatu kaum kepada kaum lainnya yaitu Hiphatya (370-415 M). Membaca riwayat Hiphatya di Internet seperti membaca kisah-kisah klasik masa lalu, dimana peran wanita meskipun termasuk kalangan yang tertindas sesungguhnya memiliki signifikansi yang erat dalam sejarah peradaban manusia sebagai tokoh-tokoh perubahan zaman yang seringkali nasibnya lebih tragis ketimbang tokoh laki-laki semisal Socrates yang mati diracun atau Galileo yang di hukum mati oleh Gereja. Hiphatya disergap di rumahnya, dibunuh dan jasadnya dikuliti dengan kulit kerang untuk kemudian dibakar oleh para pengikut pendeta Cyril yang disebut oleh pengikutnya sebagai Orang Suci. Kisah tragis Hiphatya terjadi di sekitar abad ke-5 Masehi karena rasionalitas yang diajarkan Hiphatya disebutkannya sebagai ilmu sihir yang dapat menggerogoti kekuasaan Gereja saat itu.

Hiphatya dari Aleksandria 370-415 M

 

Di Indonesia, kita mengenal RA Kartini yang akhirnya dibelenggu oleh Belanda dengan selubung keningratan dan perkawinannya sampai buah pikirnya muncul menjadi suatu kisah seorang wanita yang menjadi tanda perubahan zaman "Habis Gelap Terbitlah Terang" menjadi tulisannya yang mempengaruhi pergerakan kaum wanita Indonesia di masa mendatang. Meskipun gema dari semangatnya yang ingin mengangkat derajat wanita dengan pendidikan masih terdengar sampai hari ini (saya menulis risalah ini menjelang 21 Mei 2006 sebagai Hari Hartini), namun gema itu terdengar sayup-sayup saja yang masih kita ingat ketika kita melihat anak-anak sekolah memakai kebaya, baju bodo, atau baju-baju daerah lainnya. Begitulah yang kita lakukan sejak SD ketika Hari Kartini tiba.

Kini, gagasan Kartini telah lama ditunggangi oleh niat-niat busuk yang mengarahkan pengertian kewanitaan kearah bias jender yang mengarah pada penurunan derajat wanita itu sediri ketika jenderisme disandingkan dengan kebebasan tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya semata-mata kesenangan dan hedonisme keakuan belaka yang diselubungi kapitalisme dunia hiburan. Niat Kartini untuk mengangkat derajat kaum wanita dari kegelapan pun melenceng sedikit demi sedikit, dijadikan ajang permainan kata-kata, semantik, dan politik dan tentu saja lumayan untuk mengangkat popularitas. Kartini-kartini lain, yang masih mengikuti ajaran RA Kartini, mungkin masih ada dan tersembunyi karena memang tidak membutuhkan wira-wiri dunia hiburan maupun popularitas media yang mutunya makin melorot kalau dibandingkan media zaman Raden Djoko Mono dulu, karena saat ini media massa bukan lagi menjadi media penerang rakyat, tetapi sebagai ajang media kepentingan pribadi yang diburu-buru para investor yang memutar-mutar uangnya.

Mengingat tokoh wanita seperti Hiphatya dan RA Kartini, saya pun kembali teringat Ibu saya sebagai manifestasi Al-Rahmaan al-Rahiim, yang melimpahkan kasih sayang dan ampunan, dan bisa jadi menjadi penghukum bagi anak-anak yang durhaka. Ibu Pertiwi pun demikian juga, ketika anak-anak yang hidup di buminya mulai melenceng dan menjadi anak-anak durhaka, iapun mulai jengah, gelisah, menahan amarah, dan akhirnya menjadi amarah yang nyata dengan memperlihatkan karakter aslinya sebagai Ibu Pertiwi Bumi Indonesia yang sebenarnya berdiri di atas lempeng tektonik benua-benua yang tidak diam tetapi bergerak secara periodik. (Lihat gambar lihat Indonesia The Heart Of Allah)

Indonesia dengan posisi geografis diantara 90 derajat sampai 150 derajat Bujur Timur dan diantara 10 derajat Lintang Utara sampai 10 derajat Lintang Selatan adalah jantung Planet Earth atau The Hearth Of Allah yang menciptakan Planet Earth sebagai tempat menifestasinya bahwa Dia Maha Hidup dan Maha Mematikan, namun Dia juga Rabbul ‘Aalamin, yang menciptakan, memelihara dan mendidik semua makhluk-Nya dengan berbagai fenomena dan peristiwa yang kemudian diungkapkan dari zaman ke zaman menjadi legenda-legenda, kisah-kisah, ilmu pengetahuan dan Realitas The Matrix yang sebenarnya dimana bit-bit dijital dengan basis biner aau huruf "Ba" berdenyut dan bergetar, bergerak dan menyusun gambaran realitas baru yang lebih cepat ditransmisikan, diubah semau kita, dan digunakan sebagai fondasi masa depan peradaban manusia sebagai Abad Tauhid Base Society atau Knowledge Base Society.

Dengan posisi Indonesia (dari lokasi bujur diperoleh 90+150=240 atau 24X10) yang mencitrakan arti sebagai kelahiran Cahaya Pengetahuan Tuhan pertama kali maka sungguh elok bahwa surat ke-24 (dengan 64 ayat sebagai matriks papan catur 8x8=64) sebagai surat an-Nuur dalam kitab wahyu Al Qur’an berfirman tentang bagaimana Pesan-pesan Tuhan pertama kali dipahami dan diturunkan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan akal pikiran dan jiwa manusia dengan penegasan yang kemudian dinyatakan dengan 47 huruf yang menjadi ciri Kepribadian Manusia yang beriman sebagai sebagai al-Mukminun.

Relasi antara QS 24:1 dan QS 23:1 pun muncul sebagai suatu ungkapan Wahyu dalam al-Qur’an yang secara terselubung, dengan semantik logis yang indah dan pasti mengaitkan makna tersembunyi Indonesia yang memiliki nama dengan al-Jumal bahasa Arab 175 (Alif(1), Nun(50), Dal(1), Nun(50), Sin(60), Ya(10) dengan rahasia Penciptaan terselubung sebagai huruf ‘Ain(70) yang mengiringi Alif sehingga nilai totalnya adalah 175+70=245=49X5) dengan asal-usul seluruh ajaran agama di dunia dan berarti sebagai sumber asal dari semua pengetahuan manusia yang saat ini kita kenal sebagai ilmu pengetahuan apapun juga dengan basis simbol, geometri, bilangan, dan abjad/alfabet.

Suraatun anzalnaahaa wa faradhnaahaa

wa anzalnaa fiihaa aayaatim bayyinaatil la’allakum tadzakkarun

(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan kami wajibkan (ketentuan sebagai hukum-hukum atau sunnatullah) nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang terang (yang memberikan penjelasan), supaya kamu memperoleh pengajaran.

47 huruf dalam QS 24:1, mewakili Kepribadian Manusia Yang Optimum sebagai Kepribadian Nabi Muhammad SAW (simak surat Muhammad QS 47 dengan 38 ayat) yang merupakan komposisi Kromosom Ke-11 manusia dari simpul ke-4 dan ke-7 sebagai komposisi genetis terbaik dengan masing-masing rentang simpul memiliki 48 dijit kode genetis.

Kepribadian manusia yang optimum akan muncul dengan kaidah "illhaa khamsi" atau berserah diri dan tertunduk dengan Aslim sebagai kesadaran 24 jam sehari semalam yang mengakui lemahnya dirinya sebagi makhluk dan mengakui Tuhannya sebagai satu-satunya Realitas Mutlak Yang Maka Kuasa dengan penekanan Yang Maha untuk menyatakan ketidak terjangkauan akan gambaran Diri-Nya Yang SAMA SEKALI Berbeda dengan makhluk-Nya. Kendati demikian, Realitas Absolut-Nya tampil nyata ada dimana-mana dan dikenali oleh semua makhluk sebagai nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, Perbuatan-Nya dan Inti Dzat-Nya yang menjadi bagian dari seluruh makhluk yang hidup yaitu Ruh ‘Amriina atau Ruh dengan Perintah untuk Menauhidkan Diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang tertera dalam setiap komposisi kimiawi makhluk yang "kita sebut mati maupun hidup", yang berdenyut dengan ketukan dua satuan sebagai ketukan yang selalu bertasbih dan menyucikan-Nya dengan suatu lafaz yang terpahami dengan eksak mewakili arti Allaah, al-Rahmaan-al-Rahiim, al-Iradah-al-Qudrah, dan al-Hayyu-al-Qayyum sebagai sifat-sifat dominan yang mampu dikenali oleh makhluk yang berakal maupun yang kita sebut tidak berakal, yang sadar maupun yang tidak sadar, yang mengakui ke-Esa-an-Nya dengan tulus maupun yang tertipu daya karena memutuskan diri dari rahmat Tuhannya yang Maha Nyata sekaligus Maha Ghaib, Yang Maha Dekat sekaligus Maha Jauh, yang tidak bisa disandingkan dengan semua atribut pengetahuan yang dikenali manusia. Karena itu pula tidak layaklah manusia untuk memperbandingkan makhluk dengan Diri-Nya karena Dia Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Bathin dan Maha Lahir dan Dia Maha Meliputi segala sesuatu (QS 57:3). Yang lalai dengan kenyataan demikian, maka sesungguhnya menjadi makhluk yang menjadi summum bukmum dan umyuun karena hati yang telah buta dan akal pikiran yang telah keruh telah menjadi pembatas atau dinding-dinding Penjara Ghairullah (Selain Allah).

Dengan berserah diri, maka orang-orang beriman atau al-Mu’minun adalah mereka yang disebutkan sebagai orang berbahagia dengan sebutan sebagai al-Mu’min yang dinyatakan oleh firman Tuhan dengan komposisi 14/15 huruf dalam QS 23:1.

Qaf aflahal mu’minuun

(Sungguh berbahagia oang-orang yang mukmin)

Kebahagiaan ini bukan sekedar kebahagiaan karena dianugerahi nikmat materialistik semata (dengan barokah alam yang subur dan mestinya bisa makmur di Indonesia), namun nikmat yang lebih haikiki sebagai tetapnya ketenangan dan keyakinan dengan iman yang kokoh karena menetapnya Cahaya Pengetahuan Tuhan yaitu al-Sakhinah dalam akal dan hatinya yang jernih yang diungkapkan dalam QS 48:1-4 dengan suatu komposisi huruf yang pasti yaitu susunan 19, 61,19 dan 91 huruf atau susunan 19X dengan makna 190 (X=10 sebagai simbolisme kelahiran dan kematian Sang Waktu yang DIRASAKAN OLEH MANSUIA YANG HIDUP yang asalnya adalah tanda + dengan lingkaran dari huruf Phoenisia yang ke-22 maknanya adalah seluruh PERADABAN DUNIA adalah Pengetahuan Tuhan Yang Esa, X=10 adalah konversi peradaban Mesir Kuno dan Yunani Modern yaitu X, tanda atau simbol = dari peradaban Cina yaitu Pengetahuan Kebijaksanaan I-Ching, 10 sebagai sintesa Arab-India dengan makna lahir sebagai bilangan 2 atau 10 adalah BINER dari 2). Artikulasi lengkapnya sebagai firman Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah (saya mengutipnya dengan bahasa latin Arab supaya pembaca merujuk langsung ke al-Qur’an, kalau tidak demikian kapan Anda mau kembali membuka al-Qur’an dengan lebih intim dan langsung [artinya kalau Anda punya AQ ambil dan bukalah, kalau belum punya belilah segera dan bacalah] menggunakan semua bentuk Asma-asma Allah yang muncul sebagai simbol, geometri, bilangan dan huruf?):

Innaa fatahnaa laka fat-ham mubiina (Sesungguhnya Kami telah memenangkan engkau dengan kemenangan yang nyata)[19 huruf]

Li yaghfira lakallaahu maa taqaddama min dzambika wa maa ta-akkkhara wa yutimma ni’matahuu ‘alaika wa yahdiya-ka shiraatham mustaqiima. (agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan menunjukkimu yalan yang lurus).[61 huruf]

Wa yanshurakallaahu nashran’aziiza (dan menolongmu dengan pertolongan yang perkasa/kuat [yaitu dengan akal pikiran dan hati yang jernih dengan cara penyucian jiwa])[19 huruf]

Huwal ladzii anzalas sakiinata fii quluubil mu’miniina li yazdaaduu iimaanam ma’a iimaanihim wa lillaahi junuudus samaa-waati wal ardhi wa kanallaahu ‘aliiman hakiimaa (Dialah yang menurunkan ketenangan dalm hati orang-orang mukmin supaya bertambah keimanan mereka disamping keimanannya (yang telah ada [yaitu pengetahuan agama atau tauhid yang sebenarnya telah muncul ribuan tahun yang lalu melalui Nabi Adam a.s di Bumi Indonesia [kode 175 atau 17x5 sebagai al-Mukmin]]. Dan kepunyaan Allah tentara yang ada di langit dan di bumi, dan adalah Allahyang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana)[91 huruf]

Jadi, sebagai al-Mukmin dengan format ibadah wajib 17x2x5 atau 34x5 sehari semalam maka kebahagian itu meliputi makna yang lahir dan yang bathin juga atau mencakup apa yang diungkapkan dalam QS 57:3 sebagai tauhid hakiki dimana keimanan semakin bertambah dalam hatinya. Bertambahnya keimanan itu bukan sekedar ia menjadi kelompok al-Mukminun namun ia menjadi al-Mukmin yang patuh dengan perintah dan larangan Tuhan dengan format ibadah yang wajib sebagai kadar minimal yang harus dilaksanakan dengan format 17x5=85 alias jumlah ayat Surat al-Mukmin dan mengandung arti 17x5 sebagai Indonesia dan sebagai simbolisme Burung Garuda dengan 17 pasang sayap (17x2, 17 rakaat shalat dengan ketukan 2) yang memiliki PERISAI DENGAN 5 BUAH BUTIR HIKMAH YANG DISEBUT OLEH BAPAK PENDIRI BANGSA INDONESIA SEBAGAI SUATU ENTITY KEBANGSAAN MULTI RAS DAN KEBUDAYAAN (BHINNEKA TUNGGAL IKA) UNTUK KESATUAN NEGARA DIBAWAH NAUNGAN TAUHID YAITU PANCASILA (ONE NATION UNDER ONE GOD, alias Laailaaha Illaa Allaah, Muhammadurrasulullah alias HUWA alias 11). Maka sadar kah Umat Islam Indonesia kalau Pancasila yang dicelanya adalah hikmah-hikmah Al Qur’an. Sungguh sesat dan menyesatkan ketika seseorang yang mengaku beragama Islam, Mukmin dan mengaku mengetahui Islam mengecam Pancasila sebagai sesuatu yang syirik hanya karena artikulasinya bukan dalam Bahasa Arab? Sedemikian dungukah Manusia Indonesia saat ini sehingga terkelabui tipu daya dengan simbol-simbol budaya dan memberhalakannya? Tidak tahukah arti syirik atau tauhid yang sejati? Dimanakah akal pikiran kita wahai manusia Indonesia yang lalai? Sudah lepaskah Paku Tauhid Sunan Giri yang mengikat akal pikiran dan hatimu wahai Umat Islam Indonesia sehingga menjadi gerombolan Kuntilanak, Kolong Wewe, Abu Lahab, Abu Jahal dan gerombolan Yakjuj dan Makjuj atau tukang khayal dan angan-angan tanpa akal pikiran dan hati yang jernih?

Pengetahuan Tuhan yang dikenal manusia pertama kali dikatakan sebagai Asmaa-aa Kullahaa yang dilimpahkan kepada Adam a.s sebagai Bapak Manusia. Kini semua pengetahuan itu telah terurai dan menjadi qadar yang dapat diterjemahkan dalam bahasa apapun dan mestinya mampu menyelaraskan semua gerak hati dan keinginan umat manusia di Planet Bumi sebagai keinginan dan gerak Tuhan Yang Maha Esa dengan artikulasi penyebutan yang bermacam-macam mulai dari Allah, YHWH, Siwa-Budha, Brahman, dan berbagai nama-nama lainnya yang pernah diucapkan dan dikenal manusia sebagai ungkapan akal pikiran dan hatinya yang jernih. Akal dan hati yang jernih, adalah instrumen ketuhanan yang melekat pada manusia sebagai anugerah untuk mampu mengikat wewangian Tuhan sebagai Realitas Maya dari Adanya Tuhan itu sendiri yang Meliputi Segala Sesuatu. Celupan Ilahiyah atau Shibghatallaahi itu kemudian kita citrakan sebagai apa yang kita sebut makhluk, wacananya, dan wahana ilmu pengetahuan-Nya untuk menyadari adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan wewenang dan perintah-Nya sebagai al-Haqq (Realitas Mutlak).

Posisi optimum Indonesia digambarkan sebagai posisi antara 10 derajat LU dan LS yang diungkapkan al-Qur’an sebagai QS 10:10 ebagai komposisi SATU yang menguraikan 99 Asma-Nya alias KOMPOSISI QAAF (Pengetahuan Tuhan), Asma Keseratus sebagai Jantung Hati Allaah, citra Ketuhanan yang dilahirkan sebagai REALITAS INDRA MAYA MATRIKS 10X10 yang menjadi basis semua ilmu pengetahuan manusia di Planet Bumi apapun Ras dan Sukunya, kemajuan peradaban atau pun kemundurannya selama manusia itu masih menghidup komposisi H2O (OKSIGEN) di Planit Bumi maka semua itu adalah maujud nyata dari Asma-asma-Nya Allah. Disebutkan-Nya dalam QS 10:9 dan Qs 10:10 dengan susunan 68 atau 2x34 (dibaca 2x10+34=54 atau 27x2 sebagai ungkapan simbolik QS 53:1 dan QS 54 yaitu surat an-Najm dan al-Qamar yang satu sama lain menjelaskan tentang arti terbukanya tabir kegelapan karena Pengetahuan Tuhan yang dimunculkan berupa dasar-dasar ilmu pengetahuan dengan basis simbol, geometri, bilangan dan huruf) dan 62 huruf atau 2X31 (dibaca 2x10+31=51 yaitu susunan komposisi 34 rakaat + 17 rakaat shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib) huruf yang mencitrakan makna terselubung arti lingkaran wujud yang ditopang dengan YANG ESA yang dinyatakan dalam keadaan berpasangan atau huruf ke-2 BA dari penguraian 31 dijit bilangan AKAR 2 (renungkan makna surat Luqman atau QS 31 dengan 34 ayatnya) membangun suatu atau lingkaran pi=355/113 dengan artikulasi bahasa Indonesia PAKU BUANA alias PAKU TAUHID (Paku Buana dicomot namanya oleh trah bangsawan Jawa menjadi Paku Bhuwono sebagai simbol kekuasaan raja Jawa, nama-nama lain yang muncul di tanah Jawa kemudian mengikuti misalnya Cakra Buana, Buana Sari, Berita Buana dll. Dalam legenda Yunani Kuno Raja Buana disebut Dewa Atlas).

Innal Ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihati yahdiihim rabbuhum bi iimaaniihim tajri min tahtihimul anhaaru fii jannaatin na’iim. (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.)

Da’waahum fiiha subhaanakalaahumma wa tahiyyaatuhum fiihaa salaamuw wa aakhiru da’waahum anilhamdu lillaahi rabbil ‘aalamin (Doa mereka di dalamnya , "Maha Suci Egkau Ya Allah", dan ucapan salamnya ,"Sejahtera", dan akhir doa mereka , "Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam [Alam sebagai ‘Aalamin adalah apa yang terpikirkan dan dimaknai oleh setiap mansuia dengan Pengetahuan Tuhan atau dengan simbol, geometri, bilangan dan huruf]")

Kesejahteraan dan puja dan puji memang akhirnya hanya patut dipersembahkan kepada Allah, Al-Rahmaan, Al-Rahiim, Allah, Rabbul Aalamin yang sering kita nyatakan sebagai 19 huruf Basmalah dan Hamdallah. Suatu ungkapan gnosis dan suatu himne tentang Kemahagungan dan Kemahaindahan Tuhan yang mestinya menjadi nafas kehidupan semua penghuni Planet Bumi dengan Jantung Hati Indonesia yang permai ini. Namun, apa daya semua itu nampaknya mulai tercerai berai karena Lemahnya Jiwa Manusia Indonesia yang lalai dan tidak tahu ASAL USUL DIRINYA YANG MENYERETNYA KEPADA KETIDAKTAHUAN TENTANG ALLAH, SEBAGAI TUHAN YANG MAHA ESA yang menjadi penaung sejatinya dengan simbolisme ideologis yang tertera dengan jelas dalam setiap butir PANCASILA sebagai butir-butir hikmah atau MUTU MANIKAM AL-HIKAM DARI AL-QUR’AN, bahkan sejatinya mutu manikan Pengetahuan Tuhan yang tertera di semua kitab kaum beragama yang benar, lurus, dan sadar bahwa Tuhannya adalah Tuhan Yang Maha Esa yang pernah disaksikan di alam penyaksian dengan ungkapan reflektif saling behadapan atau posisi 11 atau | | atau saling bercermin "BUKANKAH AKU TUHANMU?"(QS 7:172).

Laa ilaaha ilaa HUWA

Ketahuilah, Ibu Pertiwi (Mother Earth is a Mother Heart atau Ibu Bumi adalah Hati Ibunda yang menghembuskan nafas kehidupan dengan rahmat dan kasih sayang, maupun ampunan dan hukuman, jadi bayangkan kalau kaum wanita menjadi rusak maka rusaklah suatu kaum) yang disebut Indonesia, berdiri sebagai pusat Planet Bumi atau Planet Earth sesungguhnya berkaitan erat dengan Sangkan Paraning Dumadi sebagai tempat dimana asal mula kehidupan Planet Bumi berasal. Ibu Pertiwi kita yang sekarang disebut Indonesia adalah tanah air semua manusia yang sekarang tersebar di seluruh permukaan bumi menjadi berbagai bangsa. Ia dulu telah dikenal, jauh sebelum gerombolan penyamun datang ke Indonesia dan merampok isi buminya habis-habisan, oleh orang-orang yang ada di India, Mesir , Phoenicia, sampai Yunani dalam kenangan primordial sebagai titik tolak, asal usul, peradaban manusia yang dimetaforakan sebagai Atlantis, Eden dari Adam dan Hawa, dan kisah-kiah serupa dengan nama-nama yang berbeda yang dikenal di peradaban-peradaban Kuno yang telah hilang, dari ujung Timur dan Barat, Utara dan Selatan. Ultima Thule, Iafones, Tapobrane, JavaDvipa, alias Indonesia yang oleh seorang profesor Fisika Nuklir asal Brazil disebut sebagai wilayah Atlantis, wilayah benua yang hilang ketika masa akhir zaman es berakhir sekitar 11600 tahun yang lalu dan limpahan gelombang tsunami, gempa bumi, dan letusan gunung berapi menenggelamkannya dalam hitungan satu malam menjadi lautan yang sekarang disebut sebagai laut Jawa dan Laut Cina Selatan, terbenam dengan kedalaman 100-150 meter di bawah laut.

Kepulauan Indonesia adalah Atlantis? Pasti Anda bengong dan mengira saya gila, demikian juga saya J. Tapi, coba kunjungi http://www.atlan.org dan ulasan menarik tentang kesejarahan Indonesia di http://www.arkeologi.net .

Bab 1 dari Risalah ATMND :"Sangkan Paraning Dumadi: Mengintip Fajar Sejarah Manusia Indonesia dan Tuhan Yang Maha Esa" (Mudah-mudahan naskah lengkapnya bisa di donlot }


rizha wrote on Jun 13, '06
aku copy aja deh, bacanya di kampus..
atmoon wrote on Jun 14, '06
Boleh, sebarin aje kok...
rizha wrote on Jun 23, '06
biaya printnya?, ongkos jalannya?, uang makan baksonya?
prasetyadi wrote on Mar 29, '07
apa ada lagi kah Indonesia dalam sudut dan pandanagan lain..............
atmoon wrote on Apr 18, '07
Indonesia dalam sudut dan pandanagan lain..............
Sebenarnya banyak Pak, ini saya mengambil dari sudut sejarah Geologis Planet Bumi, dari identifikasi geografis yang sampai hari ini dilakukan dengan cara menulis koordinat dengan grid-grid Peta Bumi, dan al-Qur'an dengan ayat Cahayanya (surat an-Nuur).
cloudleonhart wrote on Mar 21, '09
salam... saya minta izin repost ya artikel kakak ini ... artikel yang bagus...
Add a Comment