Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Tulisan ke-5 dari Artikel Membaca Pesan-pesan Tuhan


Hari ini kita pun mestinya menyadari realitas Tuhan dan hubungannya dengan bagaimana manusia memahami alam semesta sebagai suatu KONTINUUM KESADARAN-RUANG-WAKTU. Konsep materialistis menghilangkan aspek kesadaran manusia sehingga dalam sistem ilmu dengan basis filsafat materialisme alam semesta cuma sekedar KONTINUUM RUANG-WAKTU semata. Dari proses BERSERAH DIRI DENGAN TERTUNDUK DIHADAPAN TUHAN maka proses yang terjadi adalah proses berbalik arah atau at-Takwiir (QS 81) dari 9 ke 0 atau 90 sebagai nilai numerik huruf SHAAD yang menyatakan telah tetapnya ketentuan Tuhan bagi Umat Manusia untuk bisa mengenal-Nya, berjalan dengan tuntunan-Nya, dan akhirnya Sampai kepada-Nya dengan selamat melalui suatu ungkapan metaforis yang disebutkan dalam Al Qur’an sebagai Shirathaal Mustaqiim.

Huruf Shaad dalam kalimat Shirathaal ini mewakili arti dari huruf SHAAD sebagai suatu ketentuan Allah yang ditetapkan sebagai amanat bagi Umat Manusia. Sedangkan huruf Ra mewakili pengertian bahwa ketentuan itu ditetapkan dalam suatu sistem kehidupan dimana Matahari menjadi pusat tatasurya; Huruf Alif dan Thaa adalah batasan yang terukur tadi sebagai tahapan dari 0-9 untuk mengenali Penampilan Kekuasaan Tuhan yang memberikan Pertolongan Kepada Makhluk Ciptaan-Nya dengan Rahmat dan Kasih Sayang dan Peran-Nya sebagai Rabbul ‘Aalamin yang dilimpahkan sebagai MAGHFIRAH tanpa pandang bulu.

Penyertaan huruf Alif sebagai huruf Pertama dalam huruf Thaa menunjukkan makna langsung bagaimana Realitas Yang Lahir Di Topang oleh Yang Bathin yang diwakilioleh huruf Alif dengan nilai numerik 1 namun tidak ditransfer ke alfabet karena Alif mengandung makna sebagai Yang Bathin yang Menopang Yang Lahir, Yang Ghaib yang menopang Yang Nyata, dan Yang Meliputi Segala Sesuatu (Qs 57:3). Huruf Alif merupakan salah satu ciri kesempurnaan huruf Hijaiah dibanding sistem huruf lainnya. Secara numerik akhirnya kata “Shirataa” tersusun dengan ungkapan lahir sebagai suatu jalan atau suatu tuntunan bagi manusia supaya manusia itu harus menyadari kefakiran dirinya di hadapan Tuhannya Yang Maha Kuasa yang menghamparkan ampunan dan taubatnya dalam permadani maghfirah-Nya.

Dengan nilai al-Jumal 90,200,1, dan 9 diperoleh bilangan baru yaitu 300 yang  merupakan nilai huruf Syin dengan rahasia lahir sebagai bilangan 34 dimana nilai 4 muncul dari pengertian desimal dari 00 atau 100 sebagai bilangan 4 alias huruf Dal alias konstruksi segi empat alias kontsruksi fraktal 2 segi tiga sama kaki Phytagoras. Dari sini dipahami kenapa lafaz Shirataa kemudian disandingkan dengan huruf Alif dan Laam dengan nilai numerik 31. 31 adalah jumlah total dijit dari akar 2 (silahkan cek dengan kalkulator Anda jumlah dijit akar 2 setelah 1,…).

Apa arti al-Shirathaal sesungguhnya adalah suatu ungkapan metaforis dari suatu gambaran yang terpahami manusia yang berkisah tentang SEJARAH atau “Square Root Of Two” dari Sejarah Tuhan dan manusia sebagai penampilan makhluk yang mampu menampung Pengetahuan Tuhan yang tanda-tanda atau Pesan-pesan-Nya sangat Nyata. Manusia dan makhluk ciptaan itulah yang kemudian dinyatakan sebagai Hamba Allah, ‘Abd Allah semata dengan tugas-tugasnya sebagai Hamba-Nya semata ketika kesadaran atas waktu muncul. Simbolisme numerik al-Shirathaal adalah 331 yang sejatinya merupakan penguraian dari simbol 8 sebagai nilai huruf “Ha”, 8 sebagai simbol cermin, 8 sebagai jarak tempuh paket kuanta sinar matahari sampai ke Planet Bumi, 8 sebagai desimal dari 1000, dan 8 dengan nilai 2 pangkat 3 sebagai simbolisme kromosom manusia yang belum terurai dan 1000 sebagai 10 pangkat 3 alias 103 alias An-Nash alias KESADARAN ATAS WAKTU bahwa SEMUA MAKHLUK KELAK AKAN BINASA DAN YANG KEKAL HANYALAH WAJAH TUHAN YANG MAHA ESA. Bilangan 1000 itulah yang kemudian menjadi pembuka kesadaran manusia bahwa al-Hayyu al-Qayyum Allah sebagai kehidupan itu seperti roda dengan bilah 1000 pedang yang setiap waktu bisa menebas-nebas batang lehernya – sebuah putaran COKROMANGGILINGAN.

Untuk selamat sampai kepada Allah, baik ketika hidup maupun ketika Cokromanggilingan menebas nyawa manusia, maka jalan yang lurus itu dinyatakan sebagai suatu kepastian yang mengikat eksistensi kehidupan makhluk di alam kehidupannya yaitu Planet Bumi. Ikatan itulah yang kemudian dipahami oleh Newton sebagai Hukum Gravitasi Planet Bumi dengan nilai rata-rata sekitar 9,81 m/detik kuadrat (ada variasi lokal dengan nilai ini, yang paling ekstrim adalah Palung Jawa di Samudra Hindia dengan kedalaman sekitar 5 km di bawah laut dimana terdapat anomali gravitasi).

Albert Einstein kemudian menyatakannya dengan pandangan relativistik sebagai medan gravitasi dimana ikatan-ikatan antara benda bermassa diwakili oleh suatu partikel kasat mata yang masih belum ditemukan yang disbutnya sebagai partikel graviton. Kendati demiian, jumlah akumulasinya mendekati perhitungan gravitasi Newton 9,81 m/detik kuadrat. Medan gravitasi bumi,baik antara bulan, matahari dan planet sekitarnya atau antara benda langit lainnya mempengaruhi pola pasang surut berbagai benda bermasa di bumi. Yang paling jelas tentunya dengan ukuran dan pasang surut air laut, termasuk disini besar kecilnya tinggi gelombang air laut ketika terjadi Tsunami.

Fenomena gravitasional ini dalam al-Qur’an dinyatakan sebagai al-Shirathaal al-Mustaqiim. Mustaqiim sebagai kata dasar terdiri atas 6 huruf sebagai simbolisme Sang Saktu yang berkaitan erat dengan makna-kesadaran atas waktu bagi manusia yang sadar akan keterbatasannya. Susunan kata “Mustaqiim” adalah huruf Mim(40), Sin(60), Ta(400), Qaaf(100), Ya(10), dan Mim(40) dengan jumlah total 650 alias 65X sebagai simbol yang mewakili arti bagaimana akurasi logis numerik yang diwakili dengan matriks papan catur 8x8 runtuh karena memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk memahami Pesan-pesan Tuhan secara logika semata. Perlu instrumen tambahan untuk memahami Pesan Tuhan dengan utuh, instrumen itulah yang disebut Kesadaran Manusia Atas Waktu yang tersembunyi dalam karakteristik ruhaniah manusia sebagai Hati yang Memaknai segala sesuatu dengan kesadaran sebagai Hamba Allah semata. Hati seorang Hamba Allah karena itu seringkali menjadi singhasana Allah, tempat dimana semua realitas alam semesta terbenam kedalamnya.

Ketika lafaz Al-Shirataa Mustaqiim disandingkan akan diperoleh kaidah logis-semantik dari hubungan antara bilangan sebagai model untuk memahami fenomena alam yang kemudian dinyatakan oleh Newton sebagai hukum gravitasi. Jumlahkan nilai numerik al-Shirathaal dan Mustaqiim diperoleh 331+650=981, nilai gravitasi yang harus dinyatakan sebagai nilai yang ditopang oleh Pengetahuan Tuhan atau Qaaf atau 100 alias segi empat dari segi tiga sama kaki yang berpasangan yang mengaktualkan akar 2 menjadi 2 yaitu 981/100=9,81 sebagai nilai medan gravitasi bumi yang dihitung oleh Newton dengan kaidah ilmiah yang lebih modern. Kalau kita sertakan lafaz Al dalam kata Mustaqiim maka akan diperoleh nilai 981+31=1012=Ghaibi=Ghain(1000), Ya(10), dan Ba (2) yang dinyatakan dalam surat at-Takwiir ayat ke-21 (QS 81:21). Kode 81:21 adalah pernyataan yang wujud hanya “Dengan Allah” atau “Bism” (Ba, Sin, Mim=102=81+21) semua makhluk pun dinyatakan menjadi HIDUP dalam CELUPAN SHIBGHATALAAHI atau Celupan Pengetahuan Tauhid (Qs 2:138).

Lafaz “Ghaibi” adalah artikulasi lain dari HuwaxMuhammad atau 11x92=1012, sebagai pra-kondisi sebelum Pengalaman Individual Nabi Muhammad SAW disebarkan sebagai Rahmat bagi Semua Makhluk alias Rahmaatan Lil ‘Aalamin menjadi Agama Islam dengan al-Qur’an, As-Sunnah sebagai pedoman dan petunjuk supaya umat manusia selamat dan sentosa memasuki jalan yang lurus dan luas, jalan orang yang diberi nikmat yang banyak yaitu Muhammad SAW. Formalisasinya setelah pengalaman individual seorang manusia ditebarkan sebagai rahmat Tuhan bagi umat manusia adalah kalimat Syahadat Umat Islam dengan dasar kalimat yang tersusun dari 24 huruf yang sesuai dengan periodesasi siang dan malam di Planet Bumi :

Laa ilaahaa illaaa Allaah, Muhammadurrasulullah

Jadi, manusia sekedar ditakdirkan sebagai Hamba Allah untuk menyaksikan denyut 2 satuan dibawah naungan “laa ilaaha illaa Allaah,Muhammadurrasulullah” untuk menyaksikan dan menampilkan Jamal dan Jalal Allah semata. Tak lebih dari itu, maka jadilah Hamba Allah dimanapun kita berada yang menjadi khalifah Tuhan sehingga wajah-wajah Tuhan tampil dimana-mana, kita sebagai manusia yang “azalinya” beriman dengan menyaksikan ke-Esa-an Tuhan adalah cermin-cermin-Nya yang meneruskan Cahaya-Nya dengan Kemahaindahan dan Kemahagungan-Nya, dengan berbagai warna-warni-Nya, baik sadar maupun manusia itu kita sebut tidak sadar dan terhijab oleh hawa nafsunya. Tidak mengherankan bukan, setelah perang Badar usai Rasulullah berkata “Jihad terbesar telah menanti yaitu memerangi hawa nafsu diri sendiri”. Dan jihad terbesar itu kelak akan membuk atabir-tabir Jiwa dimana ketenangan  di Dalam Allah menjadi penyaksian akbarnya bahwa syahadatnya dan penauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah awal and akhir, lahir dan batin, yang meliputi segala sesuatu, maka  Tauhid Base Society akan muncul sebagai The End Of Sciences yang sebenarnya. Bukan ilmu pengetahuan dan produknya yang menjadi akhirnya tetapi manusia yang menjadi manusialah yang akhirnya mampu menunjukkan bukti sahih dari berakhirnya sians dan bangkitnya spiritualitas yang membangun tatanan baru umat manusia dibawah celupan Pengetahuan Tauhid yang menjadi dasar-dasar Tauhid Base Society alias Knowledge Base Society.


Can you still to say “you love Me”?

Can you still to say “you love Me”?

Can you still to say…

 “Did you love Me?”

“Did you love Me?”

“Did you love Me?”

...

Suatu frase akhir dari lagu favorit semasa SMA

 yang dinyanyikan grup band  Marillion, “Scripts For a Jester Tears”

atmnd@53-92,hari ke-6, 8-7-2006, jam 9:58 pagi





Add a Comment