Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat
Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain
(QS 53:13),
(yaitu) di Sidratul Muntaha (QS 53:14).
Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (QS
53:15)
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha
diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (QS 53:16)
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling
dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (QS 53:17)
Sesungguhnya dia telah melihat sebagian
tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS 53:18)

Dalam mi’rajnya ke langit, Nabi Muhammad
SAW sampai di suatu tempat dimana dilihatnya Sidratul Muntaha (Sidrah Al-Muntahā) yang dilingkupi oleh “sesuatu”. Beberapa literatur Isra & Mi’raj
menginformasikan bahwa pada saat itu Nabi SAW melihat suatu pohon yang sangat
besar dan diceritakan memiliki daun seperti telinga gajah yang mampu menampung banyak manusia [157]. Jadi,
dalam pengertian beberapa riwayat Sidratul Muntaha dikiaskan sebagai suatu
pohon yaitu Pohon Sidrath (dalam
versi al Qur’an bahasa Inggris disebut sebagai Lote Tree). Dalam Shahih Muslim disebutkan,
“Kemudian Jibril membawaku ke Sidrah Al-Muntahā (QS
53:14), mendapatkan “sebatang pohon” yang daunnya seperti telinga gajah, dan buahnya sebesar kendi. Setiap kali ia “tertutup”
dengan Kehendak Allah, “ia berubah” sehingga tidak satupun makhluk Allah yang
sanggup mengungkapkan keindahannya, Lalu Dia menyampaikan kepada hamba-Nya
(Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan (QS 53:10)”
Menurut uraian Syekh Najmuddin Al
–Ghaithiy [157], Sidratul Muntaha adalah tingkat langit ke delapan
yakni sesudah langit ke tujuh dimana terdapat Al-Bait Al-Ma’mur. Lebih lanjut dikatakannya bahwa,
“Diterangkan dalam suatu riwayat bahwa di dekat
Sidratul Muntaha terdapat Al-Kursi yang terbuat dari mutiara putih cemerlang
indah. Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang buahnya seperti gentong orang
Hajar. Menurut riwayat, kata “seperti” bukanlah mengenai besarnya, tetapi dalam
hal bentuknya seperti gentong. Adapun tentang besarnya tidak disebutkan.
Demikian pula tentang daunnya, dikatakan seperti “kuping gajah”, tentulah ini
bukan besarnya. Jika besarnya sekuping gajah, tentulah tidak mungkin bila
selembar daun saja dapat menaungi seluruh umat Nabi Muhammad Rasulullah SAW
apalagi seluruh makhluk semesta alam ini.”
Penjelasan Syeik Najmuddin diatas
mendeskripsikan secara fisikal bahwa ukuran Sidratul
Muntaha tidak terbayangkan, namun bentuknya masih bisa digambarkan oleh
Nabi Muhammad SAW sehingga dikatakan buahnya seperti gentong atau kendi, dan
daunnya seperti telinga gajah. Pendek kata, karena sulitnya menggambarkan Sidratul Muntaha,
Nabi Muhammad SAW sulit sekali menggambarkannya secara verbal sehingga apa yang
dilihatnya lebih banyak dikiaskan dengan tingkat pengetahuan yang ada di zaman Nabi.
Dalam pemahaman
masyarakat saat itu, bentuk bulat bola atau menyerupai bulat dikatakannya
seperti “kendi” atau “gentong” tempat air dan bentuk “sangat luas dan lebar melengkung”
dikatakannya seperti “telinga gajah”.
Akhirnya, karena kedahsyatan dan keindahan Sidratul
Muntaha, banyak ulama yang kemudian menafsirkan Sidratul Muntaha sebagai suatu kiasan atau metafora yang dikaitkan
dengan pencapaian spiritual tertinggi. Beberapa pendapat malah menggambarkan Sidratul Muntaha sebagai suatu kondisi
ruhaniah yang sangat membebaskan dimana berbagai beban berat seperti musnah [53,82].
Secara harfiah, Sidratul Muntaha
dapat diterjemahkan sebagai Bunga Teratai atau Bunga Lotus yang tumbuh
menjulang di suatu tempat tanpa tapal batas[82]. Semua kesimpulan
diatas, benar adanya selama tidak ada pemahaman yang menyimpang dan
menduakan-Nya, bukankah menurut sabda Nabi SAW “Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya?” (lha gimana wong yang ngrasain Isra & Mi’raj saat itu cuma Nabi SAW seorang jadi kita wajib
mengimaninya seperti Abu Bakar Ash Shiddiq).
Sahl al-Tustari menggambarkan Sidratul Muntaha sebagai pohon dimana
batas-batas pengetahuan semua manusia berakhir [128]. Sahl
melanjutkan,
“Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang
meliputinya, ini berarti bahwa Sidrah Nur Muhammad SAW dalam pengabdiannya,
seperti anai-anai emas al-Haqq
mengirimnya keluar sebagai mukjizat dari sirr-Nya. Semuanya mengabdi untuk
memperbesar dukungan baginya ketika dia dipenuhi mawarid (yang mendekat).”
Dalam penafsirannya, Sahl al-Tustari
memang menafsirkan makna tersembunyi QS 53:13-17 yang secara langsung
sebenarnya menginformasikan kondisi ruhaniah Nabi Muhammad SAW pada saat beliau
mengalami Isra & Mi’raj. Yang menarik, penafsiran Sahl al-Tustari dikaitkan
dengan penciptaan semua makhluk, sehingga untuk menegaskan Sidratul Muntaha dia
menjelaskan pengertian QS 53:13 dengan berkata,
“Ini maknanya padanya ketika Allah Azza wa Jalla
menciptakannya sebagai cahaya dalam bentuk tiang cahaya (nūran fi ‘amūd al-nūr),
ribuan tahun sebelum penciptaan makhluk, dengan tashrīf iman yang menyingkapkan rahasia melalui rahasia. Dia berdiri
dihadapan-Nya dengan penghambaan.”
Selanjutnya, untuk QS 15:17, ia
menjelaskan kondisi fana Nabi Muhammad SAW dengan berkata
“Dia tidak cenderung kepada tanda-tanda dari dirinya
sendiri. Malahan dia menyaksikan melalui keuniversalan Tuhannya Yang Maha
Tinggi, menyaksikan sifat-sifat yang dimanifestasikan kepadanya dan yang
membutuhkan konsistensi (keistiqamahan) dalam tahapan tersebut.”
Selanjutnya Sahl menguraikan QS 53:18
sebagai penegasan peran Nabi Muhammad
SAW sebagai nabi dan rasul terakhir yang menyempurnakan risalah kenabian
dan kerasulan, juga menyempurnakan hakikat manusia untuk menuju akhlak mulia yang
membedakannya dengan makhluk yang lainnya. Pernyataan ini, menurut Sahl,
merujuk pada sifat-sifat yang tampak dari ayat-ayat-Nya. Dia melihat mereka,
tetapi ketika melihat mereka, dia tidak dapat melepaskan objek persaksiannya
dan tidak terputus dari kedekatan dengan obyek penyembahannya. Penglihatan
tersebut hanya bertambah dalam cinta, kerinduan, dan kekuatan. Allah memberinya
kekuatan untuk memikul tajalli dan iluminasi sublim. Hal itu merupakan anugerah
khusus untuknya diatas seluruh nabi lainnya. Tidakkah engkau melihat bagaimana
Musa a.s. jatuh pada manifestasi tersebut? Dalam pengalaman ganda intensitas
tersebut, Nabi SAW menerobos batas psikologisnya dalam penyaksian yang
berhadap-hadapan dengan tatapan hatinya. Dia berpegang teguh kepada kekuatan ahwal-nya (kondisi ruhaniahnya) serta
kemuliaan tingkat maqam-nya
(peringkat ruhaninya) [128].
Dalam ayat-ayat sebelumnya, QS 53:8-12, Nabi Muhammad SAW memiliki tingkat
keadaan yang menjadi dekat dan lebih dekat lagi sehingga jaraknya sejauh dua
busur anak panah bahkan lebih dekat lagi (QS 53:9). Dengan kedekatan yang
saling berhadap-hadapan itu, maka respon hatinyapun tidak pernah lepas dari apa
yang disaksikannya sebagai persaksian antara Tuhannya dengan ilmu dalam hatinya
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah
dilihatnya (QS 53:11)”. “Maka apakah
kamu membantahnya atas apa yang telah dilihatnya (QS 53:12)”, yaitu dari
kita dan melalui kita (yaitu tuhan merujuk kepada
Diri-Nya Sendiri). Ayat ini menegaskan
kembali kondisi fana yang dialami Nabi SAW dimana ia masih bisa mencerap
suatu citarasa ruhaniah dihadapan Tuhannya yang terwakili oleh Tauhid Allah
oleh Allah “Laa Huwa illaa Huwa (dia
(Muhammad) bukan Tuhan tetapi tidak lain dari pada-Nya”.
Jadi, kondisi yang dialami Nabi SAW
adalah suatu kesadaran ilahiah tertinggi, dimana ia merasa kediriannya menjadi kedirian
Tuhan, namun dengan kedekatan yang masih berjarak (QS 53:8-9). Apa yang dia lihat dari diri kita dan melalui
kita lebih baik daripada apa yang dia lihat melalui dirinya sendiri. Bisa
dikatakan bahwa kondisi ruhaniah Nabi SAW seperti berada di ambang medan
rahasia Sirr Al Asrar , ia berada diambang
akhir dari singularitas mutlak, alam jabarut terakhir yang mendekati Kegaiban
Mutlak Dzat Allah. Dan diambang Kegaiban Mutlak, dihadapan Dzat Allah SWT, maka
sebagai makhluk, Nabi Muhammad SAW dikuatkan oleh cahaya awal mula dirinya
yaitu unifikasi “Nur Muhammad dan Rahmaatan Lil Aalamin” dalam lingkupan
rahmat dan kasih sayang “Basmalah” dan menjadi cermin langsung Rabb Al-Aalamin.
Pengertian “Nabi Muhammad SAW dan Nur Muhammad/ Rahmaatan Lil Aalamin” sebagai
sesuatu yang tidak terbedakan diungkapkan Ibnu Arabi dalam risalah Syajaratul
Kaun. Dikatakannya bahwa pengertian jarak dalam ayat diatas sebenarnya tidak
menunjukkan jarak tempuh atau dalam ukuran ruang dan waktu dimensional, oleh
karena itu tidak dapat ditanyakan “dimana”
dalam suatu lingkup tertentu. Dalam risalah Syajaratul Kaun, Ibnu Arabi
menegaskan bahwa ayat diatas (QS 53:9) menegaskan bahwa Tuhan tidak memiliki
dimensi ruang dan waktu karena adanya penegasan bahwa firman “atau
lebih dekat lagi” meniadakan dimensi ruang dan waktu. Jadi, Nabi Muhammad
SAW bersamanya tanpa dimensi ruang dan waktu, tidak sekarang, dan tidak pula
dalam alam tertentu. Dalam pengertian demikian, maka alam semesta yang
dipandang oleh Nabi SAW hakikatnya akan merupakan suatu zarah, sebuah titik, atau
biji yang tumbuh dan mengembang, yang terpahami sebagai suatu pohon kejadian,
suatu alam semesta yang berproses sejak cetusan “Kun Fa Yakuun” dari awal mula sampai akhir zaman; dari Dentuman
Besar sampai Kerkahan Besar.
Beliau menggambarkannya kemudian sebagai
Sidratul Muntaha yang mengembang dan
menguncup. Atau sebagai suatu
Bunga
Sidrath.
Taman Bunga Cinta Kasih Ilahi
Kalau kita perluas lagi makna Sidratul
Muntaha dikaitkan dengan penglihatan “Nabi
SAW dan Nur Muhammad” sebagai suatu yang tidak terbedakan, maka kondisi
ruhaniah Nabi SAW bisa dikatakan dalam keadaan dimana ruang dan waktu terpisah dengan kesadaran. Secara fisikal, bila
kita gambarkan dengan struktur cakrawala kealaman maka keberadaan Nabi SAW
berada di alam malakut tertinggi yakni batas akhir alam nyata. Pada kondisi
demikian, dimungkinkan secara nyata bahwa apa yang dilihat Nabi SAW adalah
suatu keadaan dimana pengertian ruang-waktu sama sekali tidak berarti, citarasa
meluas dalam arti masa lalu, kini dan nanti tidak berarti, Nabi SAW melihat
bagaimana alam semesta diciptakan dari awal mula dan dimusnahkan di akhir
zaman.
Pengertian
demikian dapat kita telaah dari konsepsi ruang-waktu yang terpahami secara
teoritis sebagai suatu kondisi psikologis, dimana masa lalu, masa kini, dan
masa depan sebenarnya hanya muncul dari kelekatan kesadaran psikologis kita
dengan cerapan hasil kognisi dan persepsi inderawi normal manusia yaitu mata,
telinga, hidung, kulit dan lain sebagainya, yang selama ini kita pahami sebagai
kontinuum ruang-waktu. Ketika kesadaran diri kita bebas dari ikatan
ruang-waktu, yang dimaksud adalah sistem inderawi normal kita sebenarnya nyaris
tak berguna. Sehingga pengertian di batas-batas dimana masa lalu, kini, dan
nanti tidak ada; yang bekerja adalah instrumen ruhaniah kita yang lebih halus
yaitu qolbu. Dalam hal ini qolbu yang kondisi ruhaniahnya termurnikan ke
kondisi awal mula sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasad dan menjadi sistem qolbu
(nafs, akal, ruh). Jadi kondisi qolbu saat mi’raj terjadi berada dalam
lingkaran paling dalam yaitu Sirr Al
Asrar, suatu tempat yang dalam pengertian sufistik menjadi sangat rahasia
dimana hanya hamba dan Tuhannya saja yang tahu. Pada kondisi demikianlah,
kehendak Allah SWT mengada secara mandiri dalam diri sang penyaksi (Nabi
SAW). Oleh karena kehendak Allah SWT
adalah manifestasi nyata dari “Bismillahirrahmaanirrahiim”,
yang tidak lain adalah limpahan rahmat dan kasih sayang atau cinta Allah kepada
semua
makhluk-Nya, maka simbolisme yang muncul
secara otomatis pada keadaan mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah sebuah ungkapan citarasa cinta yaitu
suatu Bunga. Bunga tanda cinta kasih dari kekasih untuk Kekasih Sejati yaitu
Allah SWT. Dan gambaran demikian dipilihkan oleh Allah SWT untuk Nabi SAW
sebagai simbolisme bagaimana Dia menciptakan semua makhluk sebagai maujud
rahmat dan kasih sayang-Nya semata, cinta-Nya semata.
Inilah Perbendaharan Tersembunyi itu. Dan dengan mi’raj, maka maka makhluk
dapat mengenal Diri-Nya hanya dari Diri-Nya semata sebagai Kekasih, atau dalam
hadis qudsi dikatakan-Nya “…denganKu mereka (makhluk) mengenalKu”,
atau dengan “Laa Huwa illaa Huwa (dia
(Muhammad) bukan Tuhan tetapi tidak lain dari pada-Nya”, yang identik
dengan , “Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab:
"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi" (QS 7:172).
Gambar 22 mengilustrasikan musyahadah Nabi Muhammad SAW ketika mi’raj dalam posisi
di Qabaa Qausaini.
Dengan simbolisme sebagai suatu Bunga Sidrath sebagai manifestasi “Bismillahir rahmaanir rahiim”, maka Asma
ar-Rahmaan dan ar-Rahiim-Nya terkonfirmasikan dari zona Wahidiyyah
(Penampakkan Pertama) yang semula tidak tercerap inderawi, baik inderawi
jasmaniah maupun ruhaniah. Kemudian dengan proses tumbuh menguncup dan
mengembang dan menguncup kembali maka semua makhluk muncul, tumbuh berkembang
dan kemudian kembali pada-Nya. Hanya dengan Allah (Billah) semata semua ruh, jasad, dan gerak bisa mengada, dan bukan
semata dengan diri mereka sendiri. Namun proses penciptaan-Nya adalah suatu
proses cinta-Nya kepada semua makhluk, cinta dan kasih-Nya dalam Ar-Rahmaan dan pertolongan dan
bantuan-Nya dalam ar-Rahiim. Maka
sebuah titik yang mewujud dari huruf Bā
ﺏ dalam
Basmalah terkonfirmasikan setelah kehendak-Nya
(al-Iradah) tercetuskan dengan “kun fa yakuun” (QS 36:82) sebagai pertolongan-Nya, al-Iradah & al-Qudrah-Nya mewujud menjadi proses yang merepresentasikan
bagaimana alam semesta dari sebuah zarah tanpa massa, dari titik dibawah Bā disinari oleh cahaya kemegahan-Nya sebagai
Cahaya Diatas Cahaya (QS 24:35). Melalui pelita ar-Rahmaan dan ar-Rahiim Hakikat
Muhammadiyyah menyemburat sebagai makhluk awal mula yang langsung bersujud
34 kali dan menauhidkan-Nya. Makhluk pertama adalah unifikasi “Rahmaatan Lil Aalamin dan Nur Muhammad”
yang kemudian mengembang dan tumbuh sebagai suatu alam semesta (al-Aalamin), dan juga menjadi semua
makhluk mulai dari tatanan dunia kuantum sampai alam semesta global, dengan
tujuh hirarki kealaman, lingkaran kesempurnaan, dan semua itu menunjukkan
bagaimana makhluk eksis dari sebuah benih cinta lantas tumbuh menjadi Bunga Sidrath sebagai simbolisme alam
semesta global.
Duhai, Kekasih
inikah Taman Bunga Cinta Kasih-Mu
Sidratul Muntaha
kulihat Bunga Sidrath Sang Nabi tumbuh disini
berseri dengan kelopak yang mekar mengembang dan mewangi,
dipangkalnya kulihat
kemilau mutiara putih mengelilingi.
Bunga yang lain kulihat semarak dan semerbak disekitarnya
Maka kutanamkan saja benih-benih bunga cintaku padaMu disini
di Taman Bunga Cinta Kasih Ilahi
Bunga adalah simbolisme untuk cinta, dan
semua makhluk adalah representasi dari rahmat dan cinta-Nya, representasi dari
perbendaharaan-Nya yang tersembunyi, sehingga dikatakan bahwa satu asma-Nya
berupa rahmat ditebarkan-Nya untuk semua makhluk. Sehingga seekor binatang pun
mesti berhati-hati ketika melangkah melalui anak-anaknya, karena adanya cinta
di sang induk terhadap anak-anaknya. Rasulullah menggambarkan hal ini dalam
sabdanya,
“Allah SWT menjadikan rahmat seratus bagian.
Dia menyimpan disisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian
Dan diturunkan-Nya ke bumi ini satu bagian.
Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk.
Begitu meratanya, sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu
diperoleh pula oleh seekor binatang yang mengangkat kakinya
Karena dorongan kasih sayang,
Khawatir jangan sampai menginjak anaknya.” (H.R. Muslim)
Dalam pandangan yang simbolis tersebut,
tercitra juga Kemahaagungan dan Kemahaindahan dari Allah SWT yang mempunyai
limpahan Rahmat dan Kasih Sayang, Maha Pemurah yang memberikan anugerah dan
hidayah, ampunan dan tobat, Maha Pemberi, Maha Memelihara, Maha Mendidik, Mandiri,
kepada semua makhluk. Semuanya menunjuk pada Kemahagungan dan Kemahindahan Cinta
Allah kepada semua makhluk-Nya tanpa kecuali. Bunga
Sidrath hanya dapat yang tumbuh dari tangan ar-Rahmaan dan ar-Rahiim Allah
SWT sehingga dengan “Basmalah” Allah menciptakan semua makhluk adalah
simbolisme limpahan Cinta dan Pertolongan, simbolisme Kemahalembutan, Kemaha Agungan
dan Kemahaindahan Allah SWT. Demikianlah kesimpulan saya dengan citarasa dzauqiah mengenai Sidratul Muntaha.
Dalam kondisi penyaksian yang luar biasa
tersebut, Nabi Muhammad SAW melihat dengan esensi dirinya yang awal mula
diciptakan yaitu sebagai “Rahmaatan Lil
Aalamin dan Nur Muhammad”. Dan dengan unifikasi keduanya maka Allah telah
memperkuat Nabi SAW dengan pemahaman yang utuh dan universal. Nabi Muhammad SAW
dalam penyaksian demikian bisa dikatakan berada di luar ruang-waktu yang
terpahami oleh manusia umumnya, sehingga baginya “Awal dan Akhir”, “Dhahir dan
Bathin”, “Rahmaatan Lil Aalamin, Nur Muhammad dan Nabi Muhammad SAW sebagai
Abdullah hamba Allah”, “jasmani dan
ruhani” tidak terbedakan. Akan tetapi, dia tetaplah makhluk karena dia
melihat dengan cahaya awal
mula yang menjadi instrumen penyaksian
dan penyingkapan-Nya yaitu qolbunya yang menjadi termurnikan sebagai makhluk
pertama yang menauhidkan-Nya dan memberikan rahmat bagi semua alam dan makhluk,
sehingga tercitralah Kemahagungan dan Kemahaindahan Allah SWT sebagai suatu
Bunga Sidrath nan elok, yang tumbuh di suatu tempat tanpa tapal batas yang
jelas, di hamparan samudera tanpa warna, yang menjelaskan bagaimana
Perbendaharaan Allah Yang Tersembunyi yaitu “Rahmat dan Kasih Sayang” maujud sebagai semua makhluk ciptaan-Nya,
wahana dan sarana untuk mengenal dan kembali pada-Nya.
Dalam banyak aspek, pengalaman ruhaniah
mi’raj dapat dilakukan oleh semua umat Islam dengan keistiqamahan dan
keikhlasan, ridha dan ridha-Nya. Bukankah shalat adalah oleh-oleh Rasulullah
SAW untuk umatnya agar bisa merasakan seperti apa yang dialaminya? Saya cuma
bisa mengungkapkan untuk Anda,
Maka,
capailah puncak-puncak kesadaran dirimu
sebagai makhluk yang berpikir dan
menuhankan Allah, sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan shalat, satu pintu langit terbuka menjulurkan tangga
mi’raj,
dengan dzikir, pintu kedua terbuka,
dengan istiqamah
semua malaikat berteriak kepada semua penjaga cakrawala semesta.
Dengan keikhlasan dan ridha,
pintu-pintu tujuh cakrawala semesta terbuka.
Ketika cintamu dan cinta-Nya menyelubungimu,
siapkan dirimu untuk menemui-Nya di Taman Bunga Cinta Kasih-Nya,
Sidratul Muntaha
Engkau akan lihat disana
Kemahaagungan dan Kamahaindahan-Nya
Engkau akan tersungkur
dengan banjir airmata sukacita,
rindu dan cinta, takut dan harap, akan menyelubungimu.
Ketika Dia membisikkan “Apakah yang engkau inginkan kekasih?”
Teriakkan dengan kencang dari relung qolbumu, “MenemuiMu…..”
Setelah itu, engkau dan Dia pun membisu.
Tenggelam dalam asyik masyuk keabadian cinta-Nya.
Pengalaman ruhaniah di Sidratul Muntaha
tidak mesti berupa Bunga Sidrath. Oleh
karena Bunga Sidrath hanya
dinisbahkan kepada nabi SAW sebagai yang dipilihkan oleh Allah sesuai dengan
keadaan ruhaninya. Karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, seperti
disebutkan pada sabda Nabi SAW, maka bunga yang muncul berbeda-beda dari satu
pelaku suluk atau pejalan ruhani ke pelaku suluk lainnya. Yang jelas,
pengalaman ruhani di Sidratul Muntaha sebenarnya menginformasikan tentang
penciptaan semua makhluk dari mulai zarah sampai menjadi alam semesta. Jadi,
kalau saya simpulkan secara umum, Sidratul Muntaha yang merepresentasikan “Kun Fa Yakuun” dan “Basmalah” adalah suatu “Taman Bunga Cinta Kasih Ilahi”, tempat
pertemuan atau rendezvous antara yang
menjadi kekasih dan Yang Memberikan Kasih, antara pecinta dan Yang Melimpahkan
Cinta, sebelum menemui-Nya dengan penyaksian dan penyingkapan-Nya. Sidratul Muntaha sebagai Taman Bunga Cinta Kasih Ilahi adalah suatu tempat
tanpa tapal batas, menunjukkan bahwa apa yang sudah dilimpahkan Allah SWT, tak
akan mampu dibalas oleh semua makhluk-Nya sekalipun dikumpulkan secara
berbarengan. Sehingga pengalaman ruhaniah mi’raj tidak lebih dari suatu anugerah dan
hidayah bagi makhluk yang dicintai-Nya atas kehendak-Nya semata.
Jadilah!
Maka menjadilah engkau
Menjelajahi cakrawala semesta,
menembus batas-batas makna.
Ruang-waktu telah kau tinggalkan
maka Qolbumu adalah Arasy-Nya,
ia adalah wahana untuk mencapai-Nya
Maka cintailah Dia, tauhidkanlah Dia
Setulus-tulusnya
Sebab hanya dengan ketulus ikhlasan tanpa batas
ridha-Nya menghampirimu,
membawa kehendak-Nya menemui-Nya
Di Taman Bunga Cinta Kasih-Nya.
Didalam literatur-literatur sufistik,
deskripsi tentang Sidratul Muntaha
sejauh ini memang masih dipahami sebagai suatu kiasan untuk menggambarkan
kondisi spiritual yang memang secara verbal sulit digambarkan.
Diambil dari Risalah Mawasdiri "Kun Fa Yakuun: Mengenal Diri, Mengenal Ilahi", by me